Sebagai ucapan terima kasih pengunjung atas artikel yang telah dibaca dari blog ini, silahkan beri dukungan dengan mengklik link dukungan pada widget di bawah. terima kasih

Kamis, 10 Februari 2011

SUMBANG SARAN MENINGKATKAN KUALITAS UDARA KOTA BESAR

Tulisan ini saya mulai dari cerita tentang hutan. Sebagai seorang guru saya dan teman-teman guru yang lain diberi tugas oleh sekolah untuk mendampingi siswa baru dalam kegiatan kemah bakti pramuka yang merupakan rangkaian kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Bertempat di bumi perkemahan Tuk Mumbul Desa Batur Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, kami .melakukan aktifitas kegiatan selama 3 hari 2 malam. Rutinitas pekerjaan kantor dan keseharian beraktifitas di Kota Semarang yang panas membuat kegiatan ini terasa mengasyikkan. Terasa indah aktifitas di kaki gunung Merbabu ini dengan alam yang masih segar dan udara yang dingin.
Menyusuri pohon pinus dengan irama yang khas karena hembusan angin menggerakkan pucuk pohon dan segarnya mata melihat indahnya pegunungan Merbabu membuat hati ini terasa damai. Air yang masih bisa menyegarkan tubuh menambah gairah dalam menghadapi kerasnya hidup. Hembusan angin yang dingin alami terasa beda dengan dinginnya air conditioner di ruang kerja. Angin hutan yang menyehatkan berbeda jauh dengan angin AC yang kadang membuat masuk angin. Irama hidup yang tidak diatur jam kerja membuat saya menikmati betul petualangan ini. Begitulah tiga hari yang terasa cepat sekali terlewati. Oh indahnya hutan ku hutan Indonesia, hati kecilku berdoa semoga tidak ada lagi kerusakan hutan yang gencar terjadi di bumi tercinta ini, Semoga.
Keadaan berbanding terbalik ketika saya kembali lagi ke sekolah . Hari itu saya sedang mengajar di laboratorium computer, walaupun dengan dua AC yang terpasang, udara masih terasa panas apalagi di luar ruangan panas udara sangat menyengat.
Kualitas udara ambien Kota Semarang masuk kategori sedang. Artinya, udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, tapi pada tumbuhan dan nilai estetika. Kategorisasi itu berdasarkan indeks standar pencemar udara atau ISPU. ISPU menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu, yang didasarkan pada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya. ISPU Kota Semarang diperoleh dari hasil pantauan stasiun pemantau di Tugu, Banyumanik, dan Pedurungan. Dalam lima tahun terakhir, ISPU ratarata per tahun mencapai angka 55,54. (Kompas edisi 01 September 2006).
Kualitas udara tidak sehat jika ISPU menunjukkan angka lebih dari 100. Meski demikian, tidak berarti masyarakat boleh bernapas lega. Pasalnya, ada waktu di mana pencemaran mencapai puncaknya, terutama saat transportasi padat. Bahkan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional memasukkan Semarang dalam enam kota di Indonesia dengan kualitas udara mengkhawatirkan. Udara bersih hanya dapat dinikmati antara 22 sampai 62 hari dalam setahun. Pencemar udara terbesar dari sektor transportasi dan industri. Jumlah kendaraan bermotor sebanyak 780.000 unit dan tingkat pelanggaran penanganan cerobong asap di 2.600 industri relatif tinggi. Semua ini tidak sebanding dengan kemampuan alam menetralisasi racun di udara. (Kompas edisi 01 September 2006).
Hal ini disebabkan karena naiknya suhu bumi secara global atau lebih dikenal dengan istilah pemanasan global (global warming). Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Menurut Budianto (2000:195) dalam Rajaguguk, E dan Ridwan K (2001) perubahan iklim global sebagai peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi. Kementerian Lingkungan Hidup (2001:1) mendefinisikan perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sector kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang. LAPAN (2002;1) mendefinisikan perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah Bumi secara keseluruhan. Definisi yang umumnya diterima adalah berdasarkan pasal 1 Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim yang menyatakan : “Perubahan iklim ialah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.” Perubahan iklim dalam skala global dan waktu yang panjang akan mempunyai implikasi terhadap ekosistem alam. Aktivitas manusia yang berdampak pada perubahan iklim juga akan berpengaruh besar untuk mengganggu keseimbangan sistem alam. Hal yang nyata adalah gaya hidup sebagai besar penduduk bumi yang menyumbang peningkatan gas rumah kaca di atmosfer yang mengakibatkan pemanasan global (global warming). Menurut LAPAN (2002:1) para peneliti internasional telah mengingatkan bahwa dunia mulai memanas. Sejumlah data terakhir menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi telah memanas sejak 150 tahun terakhir. Peningkatan suhu tersebut tidak konstan akan tetapi siklus pemanasan dan pendinginan agak konsisten dalam beberapa dekade. Bukti-bukti telah ditunjukan dengan adanya kenaikan muka air laut, pergeseran zona iklim dan berkurangnya glasier Pegunungan Alpen.
Keadaan suhu bumi sangat ditentukan oleh adanya keseimbangan antara energi yang datang dari matahari dalam bentuk radiasi dengan energi yang diemisikan dari permukaan bumi ke ruang angkasa dalam bentuk radiasi infra merah. Biasanya radiasi matahari melewati atomosfer yang kemudian sebagian besar diserap oleh permukaan bumi. Sedangkan radiasi infra merah dari permukaan bumi sebagian diserap oleh gas rumah kaca (GRK) sebagian lagi ke permukaan bumi dan atmosfer bawah. Masalahnya yang terjadi saat ini adalah konsentrasi gas rumah kaca semakin bertambah melebihi tingkat normal sehingga sebagian radiasi yang berasal dari matahari maupun permukaan bumi terjebak oleh gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan radiasi tidak dapat ke luar angkasa dan kembali ke permukaan bumi sehingga memanaskan suhu bumi. Dibawah ini terdapat gambar proses efek rumah kaca secara sederhana :

Sumber : www.globalwarmingindonesia.co.cc

Beberapa komponen yang menyebabkan udara tercemar antara lain :
  1. Karbon Dioksida (CO2)
    Karbon dioksida berasal dari pembakaran sempurna hidrokarbon di dalamnya termasuk minyak bumi dan gas alam. Sebagai contoh pembakaran oktana yang merupakan salah satu komponen bensin dengan reaksi sebagai berikut :
    2 C8H18 (l) + 25 O2 (g) -> 16 CO2 (g) + 18 H2O (g)
    Sebenarnya gas karbon dioksida tidak berbahaya bagi manusia. Namun, kenaikan kadar CO2 di udara telah mengakibatkan peningkatan suhu di permukaan bumi. Fenomena inilah yang disebut efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca adalah suatu peristiwa di alam dimana sinar matahari dapat menembus atap kaca, tetapi sinar infra merah yang dipantulkan tidak bisa menembusnya. Sinar matahari yang tidak bisa keluar itu tetap terperangkap di dalam rumah kaca dan mengakibatkan suhu di dalam rumah kaca meningkat. Seperti itu pula karbon dioksida di udaraa, ia dapat dilewati sinar ultraungu dan sinar tampak, tetapi menahan sinar inframerah yang dipantulkan dari bumi. Akibatnya suhu dipermukaan bumi naik jika kadar CO2 di udara naik. Kenaikan suhu global dapat mencairkan sungkup es di kutub. Akibat selanjutnya adalah kenaikan permukaan laut sehingga dapat membanjiri kota-kota pantai di seluruh dunia termasuk kota kita tercinta.
  2. Karbon Monoksida (CO)
    Gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tak sempurna bahan bakar dalam kendaraan bermotor. Gas buang hasil pembakaran bensin dari kendaraan bermotor mengandung 10.000 sampai 40.000 ppm CO. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, oleh karena itu, kehadirannya tidak segera diketahui. Gas itu bersifat racun, dapat menimbulkan rasa sakit pada mata, saluran pernafasan, dan paru-paru. Bila masuk ke dalam darah melalui pernafasan, CO bereaksi dengan hemoglobin dalam darah membentuk COHb (karboksihemoglobin) dengan reaksi sebagai berikut :
    CO + Hb -> COHb
    Seperti kita ketahui, hemoglobin ini seharusnya bereaksi dengan oksigen menjadi O2Hb (oksihemoglobin) dan membawa oksigen yang diperlukan ke sel-sel jaringan tubuh dengan reaksi sebagai berikut :
    O2 + Hb -> O2Hb.
    Ikatan CO dengan Hb lebih kuat dibanding O2 dengan Hb sehingga menghalangi fungsi vital Hb untuk membawa oksigen bagi tubuh, yang berakibat tubuh kekurangan oksigen sehingga menimbulkan rasa sakit kepala dan gangguan pernafasan bahkan kematian.
  3. Oksida Belerang (SO2 dan SO3)
    Senyawa-senyawa belerang yang bertindak sebagai zat pencemar yang berbahaya adalah gas-gasa SO2 dan SO3. Gas SO2 di atmosfer sebagian besar berasal dari hasil pembakaran minyak bumi dan batubara yang mengandung belerang, di samping ada juga yang berasal dari hasil oksidasi bijih-bijih sulfida di industri.
    Udara yang mengadung SO2 dalam kadar cukup tinggi dapat menyebabkan radang paru-paru dan tenggorokan pada manusia serta khlorosis (kepucatan) pada daun-daun. Oksidasi SO2 akan menyebabkan terbentuknya SO3. SO3 bila bereaksi dengan uap air akan menyebabkan hujan asam (acid rain). pH air hujan yang mengandung oksida belerang akan turun menjadi 3 – 4. Akibatnya timbul korosi logam-logam, kerusakan bangunan yang terbuat dari batu pualam dan memudarnya cat-cat pada lukisan. SO2 apabila terisap oleh pernafasan, akan bereaksi dengan air dalam saluran pernafasan dan membentuk asam sulfit yang akan merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit. Apabila SO3 yang terisap, maka yang terbentuk adalah asam sulfat, dan asam ini lebih berbahaya.
  4. Oksida Nitrogen (NO dan NO2)
    Dalam beberapa dasawarsa terakhir, jumlah kendaraan bermotor yang meningkat telah menimbulkan sejenis pencemaran udara yang tidak pernah dialami oleh peradaban sebelumnya. Pencemaran ini ditimbulkan oleh oksida nitrogen. Sumber utama oksida nitrogen adalah pembakaran bahan bakar dalam industri dan kendaraan bermotor. Nitrogen dan oksigen tidak bereaksi pada suhu rendah, tetapi pada suhu tinggi, kedua gas itu dimungkinkan bereaksi sebagai berikut :
    N2 (g) + O2 (g) -> 2 NO (g)
    Sekitar 10% dari gas NO yang dihasilkan, teroksidasi lebih lanjut membentuk NO2. Campuran NO dan NO2 sebagai pencemar udara biasa ditandai dengan lambang NOx. NOx di udara tidak beracun secara langsung pada manusia, tetapi NOx ini bereaksi dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asbut (asap-kabut) atau smog dalam bahasa Inggris. Asbut ini mengakibatkan mata perih, nafas sesak dan tanaman layu.
    Asbut adalah campuran rumit yang terdiri dari berbagai gas dan partikel-partikel zat cair dan zat padat. Asbut dihasilkan dari serentetan reaksi fotokimia (yaitu reaksi kimia di bawah pengaruh energi sinar matahari).
    NO2 (g) + sinar matahari -> NO (g) dan O (g).
    Motor bakar, juga menghasilkan hidrokarbon yang tidak terbakar akibat reaksi pembakaran di dalam motor kurang sempurna. Hidrokarbon ini dapat bereaksi dengan atom oksigen yang dihasilkan dari dekomposisi fotokimia NO2. Reaksi ini menghasilkan radikal hidrokarbon bebas yang sangat reaktif. Radikal ini bereaksi dengan NO dan menghasilkan NO2 lagi, dan serentetan reaksi berulang lagi dan menghasilkan ozon. Radikal bebas itu juga bereaksi dengan O2 dan N2 dan menghasilkan senyawa yang disebut peroksiasilnitrat (PAN). PAN juga memberi efek asbut dan menimbulkan rasa perih di mata.
  5. Pencemar Butiran
    Di antara pencemar butiran, yang paling mencolok adalah asap dan butir-butir karbon sisa pembakaran. Bahan pencemar itu dapat berasal dari pembangkit listrik, industri dan kendaraan bermotor. Pencemar butiran dapat mengganggu pernafasan, daya pandang dan mempengaruhi
  6. Pencemaran Timbal di udara
    Timbal (Pb) merupakan pencemar udara yang berasal dari gas buangan kendaraan bermotor. Untuk menghasilkan pembakaran yang baik dan meningkatkan efisiensi motor bakar, bensin diberi zat tambahan, yaitu Pb(C2H5)4 atau tetra etil timbal (TEL). Setelah mengalami pembakaran di dalam motor, timbal dilepas ke udara dalam bentuk oksida timbal. Timbal merupakan racun keras yang bila menumpuk di dalam tubuh akan menimbulkan kerusakan permanen pada otak, darah dan organ tubuh lainnya.
    Penurunan kualitas udara akibat pencemaran udara merupakan masalah serius kota-kota besar di Indonesia. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia mengalami kerugian ekonomi hingga 424,3 juta dollar AS tahun 1990 dan meningkat menjadi 634 juta dollar AS tahun 2000 akibat pencemaran udara. (Kompas Cyber Media edisi Rabu 14 Agustus 2002).
Karbondioksida (CO2) adalah gas rumah kaca yang sangat penting, dimana sebagian dihasilkan dari aktivitas manusia. Sekitar 5,5 giga ton per tahun (5,5, milyar ton per tahun) karbon telah diemisikan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara oleh kegiatan industri, rumah tangga, transportasi dan stasiun pembangkit. Sebagian kecil emisi berasal dari produksi semen dan sekitar 1,5 giga ton karbon per tahun berasal dari perubahan tata guna lahan seperti penggundulan hutan. (IPCC;2001 dalam LAPAN 2002;3) Dengan terjadinya perubahan iklim ternyata telah menimbulkan dampak pada berbagai hal seperti :
  1. Dampak pada vegetasi alamiah
    Secara singkat dalam skenario yang dikemukakan oleh IPCC terutama skenario emisi tanpa mitigasi (pencegahan) maka akan terjadi kondisi penguningan pada daun di hutan tropis dan padang rumput tropis di tahun 2080-an khususnya di Afrika dan Amerika Latin. (IPCC:2001)
  2. Dampak pada sumber air
    Dalam skenario IPCC tanpa mitigasi maka di tahun 2080 akan terjadi penurunan cadangan air besar-besaran di Australia, India, Afrika bagian selatan dan Eropa serta Timur Tengah.
  3. Dampak pada cadangan pangan
    Dalam skenario IPCC tanpa mitigasi maka di tahun 2080 akan terjadi penurunan produksi padi-padian di Afrika, Timur Tengah dan India. Namun perlu diperhatikan justru lintang tinggi dan menengah yaitu di Cina, Kanada dan Argentina produksi padi-padian akan meningkat.
  4. Dampak pada kenaikan panas laut
    Tanpa mitigasi maka di tahun 2080 paras laut akan naik sekitar 40 cm sehingga menimbulkan banjir yang merugikan. 60 % kenaikan ini akan terjadi di Asia Tenggara seperti Vietnam, Philipina dan Indonesia.
  5. Dampak pada kesehatan manusia
    Tanpa mitigasi sekitar tahun 2080 diperkirakan 290 juta penduduk dunia akan mengalami resiko terjangkit malaria falciparum. Kenaikan ini akan terjadi di Cina dan Asia Tengah. Karena itu diperlukan mitigasi dan reduksi emisi yang mengarah pada stabilisasi CO2 sehingga diharapkan alam akan mampu menyesuaikan diri terhadap proses perubahan iklim global.
Solusi yang ditawarkan
Langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas udara adalah :
  1. Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau
    Kota Semarang yang merupakan Kota Metropolitan berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa dengan luas wilayah 37.360,947 hektare diharapkan mampu mempertahankan RTH sebagai upaya melestarikan lingkungan. Berdasarkan Perda Nomor 5 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2000-2010, rencana penyediaan ruang terbuka hijau kota (konservasi) masih cukup menjanjikan dengan persentase sebesar 32 % (data ini belum terhitung terkait garis sempadan yang telah ditetapkan). Namun demikian, harus menengok ke belakang, persentase ini terdukung karena pada 1976 Kota Semarang mendapatkan “hibah” perluasan daerah hinterland Kota Semarang yang sebagian kondisi eksisting lahannya adalah konservasi. Ini tentunya harus dipertahankan, khususnya kawasan Semarang bagian bawah. (M Farchan, 2006).
    Sesuai konsep rencana tata ruang terbuka hijau perkotaan, maka ada dua fungsi yaitu utama (intrinsik) dan tambahan (ekstrinsik). Yang utama yakni fungsi ekologis, sedangkan untuk tambahan adalah fungsi arsitektural, ekonomi, dan sosial. Dalam wilayah perkotaan, fungsi itu harus dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota. RTH berfungsi ekologis adalah untuk menjamin keberlanjutan suatu kawasan kota secara fisik, yang merupakan bentuk rencana berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu kota. Disamping itu ruas jalan yang sudah didominasi dengan beton dan aspal perlu dilindungi dari matahari langsung dengan penanaman pohon di sepanjang tepi jalan.
  2. Pembatasan Jumlah Kendaraan
    Faktor paling besar penyebab pencemaran udara adalah asap kendaraan bermotor. Cara yang paling efektif untuk mengurangi asap tersebut adalah dengan membatasi jumlah kendaraan di jalan raya. Langkah menutup kawasan Simpang lima dari kendaraan bermotor pada hari Minggu dan hari besar merupakan salah satu usaha yang baik. Menutup kawasan tersebut selama beberapa jam selain untuk menjaga kebersihan udara juga penting bagi keamanan dan kenyamanan warga Kota Semarang.
  3. Gunakan transportasi umum
    Tidak mudah untuk menggunakan transportasi umum kecuali bagi yang terbiasa. Penggunaan transportasi umum sangat membantu untuk mengurangi gas emisi rumah kaca. Namun demikian perawatan kendaraan umum juga sangat besar pengaruhnya. Karena itu perlu diusulkan kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem transportasi umum sehingga menjadi lebih baik.
  4. Pemakaian bensin tanpa timbal atau bahan bakar gas.
    Langkah ini dapat mengurangi pencemaran timbal di udara. Zat aditif yang diberikan pada bensin tidak lagi TEL tetapi Methyl Tersier Buthyl Eter (MTBE) dimana bensin tersebut tidak mengandung timbal.
  5. Kontrol ketat emisi gas buangan pada industri dan kendaraan bermotor.
    Langkah ini dilakukan untuk memantau perkembangan polusi udara oleh industri dan kendaraan bermotor.
  6. Pemasangan alat pemantau pencemaran.
    Alat ini dipakai untuk mendapatkan informasi pencemaran udara di suatu tempat. Berdasarkan alat ini dapat diketahui penyebab pencemaran udara yang paling tinggi sebagai masukan bagi pemerintah untuk melakukan langkah-langkah pencegahan.
  7. Menghentikan penebangan hutan.
    Penebangan hutan hingga saat ini masih menjadi isu yang menarik perhatian. Rata-rata setiap hari lebih negara dirugikan lebih dari 1 milyar rupiah setiap harinya akibat penebangan hutan yang liar (illegal loging). Padahal hutan sangat bermanfaat untuk menyerap CO2. Karena itu perlu didukung penanaman jenis-jenis tanaman yang mampu menyerap karbon.
  8. Mencegah kebakaran hutan.
    Kebakaran hutan yang disebabkan oleh kegiatan manusia sangat besar dampaknya. Hal ini dikarenakan kebutuhan untuk mendapatkan lahan yang lebih luas. Akibat dari kebakaran hutan maka luasan daerah yang mampu menyerap karbon akan berkurang. Dampak yang lebih parah adalah semakin meluasnya wilayah-wilayah yang potensial menjadi daerah gurun.
  9. Menggalakkan gerakan penghijauan
    Menggalakkan gerakan penghijauan (misalnya penanaman sejuta pohon) untuk menghindari berkurangnya vegetasi dalam lingkungan kota. Penanaman ini dapat dilakukan di taman-taman kota, koridor jalan, pembatas jalan sehingga dapat membantu mengurangi suhu dan membuat kota lebih sejuk dan hijau. Pepohonan mempunyai potensi besar untuk mendinginkan kota dengan cara meneduhkan dan melakukan proses ”evapotranspirasi”. Proses ini terjadi ketika tanaman mengeluarkan uap air lewat pori-pori daun layaknya manusia yang mengeluarkan keringat. Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa masalah lingkungan perkotaan baik dari aspek estetika, mengontrol erosi tanah dan air tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi kebisingan, mengendalikan air limbah, mengontrol lalu lintas dari kesilauan cahaya matahari maupun cahaya yang lainnya dan dapat mengurangi bau tidak sedap dari sampah. Tanaman buah-buahan akan menjadi pilihan Pemerintah Kota Semarang untuk menghijaukan arealnya terutama di bantaran sungai, lahan kosong, dan permukiman. Ini untuk meningkatkan partisipasi warga dalam memelihara kehijauan kota. “Selama ini, paradigma tanaman perindang hanya berupa kayu akasia atau mahoni. Mengapa tak dikembangkan tanaman buah-buahan yang bermanfaat bagi masyarakat sendiri?” ujar Sekretaris Tim Teknis Penyusunan Rencana Tata Ruang Hijau (RTRH) Kota Semarang Budi Prakosa, seperti dikutip dari Kompas edisi Rabu, 13 September 2006.
    Dengan penanaman buah-buahan ini, kata Budi, kesadaran masyarakat untuk menjaga ruang hijau kota dapat diciptakan. Dicontohkan, penanaman tanaman jambu air disepanjang Kali Jajar Kabupaten Demak oleh warga setempat. Warga setempat sangat menjaga pepohonan itu karena hasil panen jambu air mendatangkan peningkatan kesejahteraan hidup. Budi contohkan penanaman tanaman buah-buahan di bantaran Kali Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Selanjutnya, warga di sekitarnya dapat mengelola tanaman itu. “Ini juga dapat menghindari adanya lahan kosong milik pemkot agar tak diduduki orang lain (ilegal). Karena, pengawasan dilakukan warga setempat,” ujar Budi, staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang. Saat memberikan laporan pendahuluan RTRH Kota Semarang, Untuk itu program resik-resik kutho perlu diteruskan.
    Gerakan penghijauan dilakukan dengan mewajibkan setiap rumah tangga untuk menanam satu pohon di halaman rumah. Terutama untuk jenis pohon yang produktif seperti pohon buah-buahan. Pemkot Semarang juga dapat memberikan reward kepada peran serta masyarakat dan swasta yang mempunyai perhatian terhadap penghijauan, keindahan taman kota dan lingkungan. Penghargaan ini dapat berupa hadiah untuk pemeliharaan, atau keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sehingga memacu warga kota untuk berpartisipasi.
    Menegakkan aturan dengan punishment tentang peraturan bangunan setempat, diantaranya Koefisien Dasar Bangunan (KDB) untuk semua bangunan sehingga ada ruang terbuka (open space) dalam setiap tapak yang akan bermanfaat untuk penanaman pohon atau penghijauan.
    Keberadaan taman kota sangatlah penting bagi kenyamanan warga yang ingin melakukan kegiatan refreshing atau sekedar jalan-jalan. Setidaknya keberadaan taman kota dapat mengurangi dampak buruk yang diakibatkan oleh polusi udara. Jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan hidup berdampingan dengan udara yang terpolusi. Untuk itu, diperlukan pengendalian diri Pemkot untuk tidak gatal menyulap lahan-lahan hijau menjadi bangunan komersial yang akan membuat Semarang menjadi semakin sumpek. Penanaman pohon merupakan suatu usaha untuk mendinginkan dan menghijaukan kota dengan pengelolaan taman kota, taman lingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Apabila semuanya dilakukan bukan mustahil Semarang akan “ijo royo-royo” yang dapat menjadi identitas kota Semarang.
  10. Mengurangi sampah rumah tangga dan industri.
    Tindakan ini memang tidak mudah dilakukan. Sosialisasi mengenai program ini sudah berlangsung puluhan tahun namun nampaknya masih jauh dari harapan. Sampah yang semakin banyak dan tidak didaur ulang akan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dimana TPA memiliki banyak kandungan methan yang tinggi.
  11. Lakukan hemat energi.
    Melakukan hemat energi misalnya dengan mengurangi penggunaan lampu yang tidak diperlukan, pemakaian televisi yang terus menerus agak dikurangi dll. Hemat energi akan juga menghemat penggunaan batubara di PLTU.
  12. Kurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang meningkatkan efek rumah kaca.
    Mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia seperti CFC untuk AC dan penggunaan bahan kimia lainnya juga diharapkan akan mengurangi efek rumah kaca.
  13. Kembangkan energi alternative
    Mengembangkan energi alternatif sangat penting. Energi yang berasal dari angin, sinar matahari, air dll sebenarnya sangat potensial digunakan di Indonesia. Karena itu hendaknya dari aspek kebijakan nasional energi perlu didorong pengembangan energi alternatif ini. Masih banyak cara-cara lain yang ditempuh untuk mengurangi efek rumah kaca seperti, kebijakan penggunaan bensin, pengurangan daerah-daerah tandus dll. Cara-cara yang sederhana hingga yang rumit harus dilakukan namun dengan cara simultan dari mulai perencanaan hingga evaluasi terhadap seluruh kebijakan lingkungan hidup di Indonesia. Tindakan ini dapat dilakukan misalnya penyadaran terhadap kalangan siswa didik melalui pendidikan lingkungan hingga implementasi pada kebijakan nasional mengenai pendidikan lingkungan.
Akhirnya, menutup tulisan saya, langkah mendinginkan Kota Semarang dapat dicontoh oleh kota-kota lain di Indonesia. Terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA
_____. Tanpa tahun. Respon Indonesia Terhadap Isu-isu Lingkungan Global, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, Jakarta.
_____2001. Tanya Jawab tentang Isu-isu Perubahan iklim, Kementerian Lingkungan hidup, Jakarta.
Budianto, AI. 2001. Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Negara Kepulauan Indonesia, dalam Rajagukguk, E dan Ridwan K, Jakarta.
KLH. 1992. Dampak Perubahan Iklim, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.
Kompas edisi 01 September 2006.
Kompas edisi Rabu, 13 September 2006.
Kompas Cyber Media edisi Rabu 14 Agustus 2002
LAPAN, 2003. Landasan Ilmiah Perubahan Iklim, Bandung.
Intergovernmental Panel on Climate Change,1995. Climate Change 1994, IPCC, Cambridge University Press, London.
M. Farchan. 2006. Rencana Ruang Terbuka Hijau. Suara Merdeka edisi 24 Agustus 2006.
Sukawi. 2006. Mendinginkan Kota Semarang. Seputar Semarang Suplemen Suara Merdeka 20 Juni 2006
www.suaramerdeka.com/harian/0407/01/kot15.htm

11 komentar:

Rizki Notoraharjo mengatakan...

Artikel yang bagus

abu Rizal mengatakan...

Amazing Blog

ALVINI mengatakan...

HARUS DICONTOH

Issty mengatakan...

The Best Teacher .. >.<

Victoria mengatakan...

bisa dicontoh kui !!!!!!!!

mahameru mengatakan...

artikel yang panjuanggggg,...
but nice :)

hudaesce mengatakan...

Nice post here,

yulianti mengatakan...

ai like this post...selamat berjuang papi...

halida mengatakan...

blognya cukup baguzz,,, menarik pembaca untuk melihatnya...

My First Blog mengatakan...

nice post pak ardan!!!! tingkatkan terus !

Taufiq Ismail mengatakan...

Blognya sangat menarik.

 
Great HTML Templates from easytemplates.com.